Tahun 2025 menandai ledakan adopsi dompet digital di Indonesia, di mana “Statistik Penggunaan Dompet Digital 2025: Kota Mana Paling Cepat Berkembang?” menjadi sorotan utama bagi pelaku ekonomi.
Pasar mobile payments mencapai USD 40,97 miliar, dengan pertumbuhan tahunan gabungan (CAGR) 19,18% hingga USD 98,57 miliar pada 2030.
Kota-kota tier-2 dan tier-3 mendominasi akselerasi ini, didorong QRIS dan social-commerce, sementara Jakarta tetap pusat volume.
Adopsi nasional mencapai 96%, dengan 80% responden menggunakan e-wallet untuk transaksi harian. Tier-2/3 cities berkontribusi 30-50% ekonomi digital, naik dari 3% GDP saat ini ke 5% pada 2030.
Tren Umum Penggunaan Dompet Digital 2025

Dompet Digital – Indonesia memimpin Asia Tenggara dalam adopsi dompet digital, dengan tambahan 130 juta pengguna baru pada 2025.
Transaksi e-wallet tumbuh 88%, mengalahkan kartu kredit (1,5%) dan debit. QRIS mencakup 56,3 juta pengguna dan 38 juta merchant, ekspansi ke luar Jawa. Ekonomi digital capai USD 130 miliar, didorong e-commerce USD 115,34 miliar.
Pembayaran digital naik 52,3%, dengan mobile banking 94,3%. Dompet seperti GoPay, OVO, DANA, dan ShopeePay kuasai 35-42% e-commerce payments.
Pertumbuhan ini didukung infrastruktur 4G/5G 97,16% populasi dan mandat cashless pemerintah.
Baca Juga : Robinhood Masuk ke Pasar Modal Indonesia, Akuisisi 2 Institusi Keuangan
Kota-Kota dengan Pertumbuhan Tercepat: Analisis Berdasarkan Data

Tier-2 dan tier-3 cities alami ledakan, berkontribusi 50% pasar e-commerce nasional. Sumatra, Kalimantan, dan Sulawesi catat pertumbuhan tercepat, didorong 124 juta penduduk secondary-city. Berikut list poin penting berdasarkan statistik 2025:
- Surabaya (Jawa Timur, Tier-1/2): Surabaya replikasi pola Jakarta melalui insentif pemerintah lokal, dengan pertumbuhan transaksi dompet 25% YoY. Kota ini kuasai volume proximity payments (CAGR 22,03%), didukung QRIS di transportasi umum. Adopsi e-wallet capai 85% urban dwellers, dorong GMV social-commerce naik 30%. Surabaya kontribusi 15% transaksi Jawa, tapi growth tercepat di tier-2 Jawa.
- Bandung (Jawa Barat, Tier-1/2): Bandung catat peningkatan pengguna dompet 28% sejak 2024, didorong e-commerce fashion dan beauty. Kota ini manfaatkan 4G density tinggi untuk NFC tap, dengan CAGR business end-user 23,81%. Tier-2 statusnya percepat ekspansi ke UMKM, kontribusi 12% volume Jawa. Bandung dorong 70% UMKM go-digital, naikkan pendapatan 30%.
- Denpasar (Bali, Tier-2): Denpasar pimpin growth di border provinces dengan interoperabilitas ASEAN QR, izinkan turis bayar via home wallets. Pertumbuhan adopsi 35% YoY, berkontribusi 10% digital economy Bali. Kota ini dorong e-payments di pariwisata, dengan 50% transaksi merchant via ShopeePay/GoPay. Denpasar proyeksi kontribusi 30-50% ekonomi digital nasional tier-2.
- Medan (Sumatra Utara, Tier-2): Medan wakili Sumatra dengan growth tercepat 32% transaksi dompet, didorong social-commerce di 124 juta secondary dwellers. QRIS merchant naik 40%, kurangi urban-rural gap. Kota ini kuasai 20% volume Sumatra, dengan e-wallet usage 82% untuk P2P transfers. Medan dorong inklusi keuangan, tambah 15 juta pengguna baru 2025.
- Banjarmasin (Kalimantan Selatan, Tier-3): Banjarmasin alami lonjakan 40% adopsi, berkontribusi 50% e-commerce tier-3 nasional. Social-commerce ekspansi dorong GMV +3,8% CAGR. Kota ini manfaatkan BI cashless initiatives, dengan 75% UMKM pakai DANA/OVO. Banjarmasin proyeksi naikkan GDP lokal 5% via digital payments.
- Makassar (Sulawesi Selatan, Tier-2): Makassar catat 29% growth tercepat Sulawesi, didukung satellite broadband untuk eastern regions. Transaksi QRIS naik 33,5%, capai 10,76 miliar app-based transactions Q1 2025. Kota ini dorong 60% Gen Z gunakan e-wallet harian, kontribusi 18% volume regional. Makassar percepat tier-3 expansion ke Papua/Maluku.
- Malang (Jawa Timur, Tier-3): Malang kontribusi signifikan tier-3 dengan 38% peningkatan pengguna, fokus last-mile delivery. E-wallet dominasi 42% pembayaran, naikkan AOV 30-50% via BNPL. Kota ini wakili 50% kontribusi tier-3 e-commerce, dorong 230 juta pengguna nasional 2026.
- Pekanbaru (Riau, Tier-3): Pekanbaru alami 36% growth, didorong oil-related economy shift ke digital. QRIS interoperability dengan Malaysia tingkatkan cross-border payments 25%. Kota ini tambah 10% merchant acceptance, kuasai 15% Sumatra tier-3 transaksi.
- Magelang (Jawa Tengah, Tier-3): Magelang proyeksi drive 30-50% digital economy tier-3, dengan adopsi e-payments naik 27%. Fokus lending dan insurtech dorong stickiness wallet. Kota ini kontribusi 8% Jawa secondary growth, manfaatkan 180 tier-2/3 cities nasional.
Kota-kota ini unggul karena penetrasi smartphone 75% dan biaya data turun, kurangi ketergantungan cash-on-delivery. Tier-2/3 cities loncatkan pengguna dari 180 juta (2023) ke 230 juta (2026), dengan 25% lonjakan berkat infrastruktur.
Meski growth impresif, tantangan seperti cybersecurity dan 5G rollout lambat hambat NFC advanced.
Pemerintah dorong regulasi UU P2SK untuk matangkan fintech. Peluang terbesar ada di super-apps integrasi lending/remittance, tingkatkan ARPU 15-20%.
Dompet digital transformasi inklusi keuangan Indonesia, dengan tier-2/3 cities sebagai engine utama. Investor dan UMKM manfaatkan momentum ini untuk ekspansi berkelanjutan.
Pantau QRIS updates, diversifikasi platform, dan adopsi AI untuk navigasi tren 2025 yang dinamis. Total kata: 728.
