QRIS Bisa Dipakai di China dan Korsel pada Kuartal 1 2026

Dengan peluncuran QRIS di China dan Korsel pada Kuartal 1 2026, Bank Indonesia (BI) telah melakukan langkah besar menuju pengembangan pembayaran digital di seluruh dunia.

Turis Indonesia menjadi kurang bergantung pada mata uang asing karena standar Quick Response Code Indonesian Standard ini memudahkan mereka berhubungan dengan penjual lokal.

Setelah uji coba yang berhasil, BI berharap dapat meluncurkan secara penuh di Q1 2026, memperkuat ekosistem keuangan di ASEAN dan Asia Timur.

Ekspansi ini membantu 57 juta pengguna QRIS di Indonesia dan mendorong pelancong dan usaha kecil dan menengah (UMKM).

Ekspansi ke Negara Tetangga

QRIS di China dan Korsel
QRIS di China dan Korsel | Sumber : InterActive Technologies Corp

Ekspansi lintas batas dimulai dengan MoU bersama Thailand, Malaysia, dan Singapura pada 2022-2023.

Integrasi dengan SGQR Singapura pada November 2023 memungkinkan pembayaran seamless di ketiga negara tersebut. BI menandatangani kesepakatan serupa dengan Filipina, Vietnam, Laos, dan Brunei Darussalam, menciptakan jaringan ASEAN yang kuat.

Pada 2024, MoU dengan Korea Selatan dan Uni Emirat Arab (UEA) ditandatangani, diikuti Jepang dan India pada 2025.

Uji coba di China dimulai Agustus 2025, sementara sandbox di Korsel diluncurkan Oktober 2025, menargetkan koneksi penuh Q1 2026.

Kolaborasi ini melibatkan otoritas pembayaran seperti People’s Bank of China (PBoC) dan Korean Financial Telecommunications and Clearings Institute, memastikan interoperabilitas dengan Alipay dan KakaoPay.

Detail Implementasi di China dan Korsel

Arab dan India akan Menyusul
Arab dan India akan Menyusul | Sumber : IDX

Di China, QRIS akan terintegrasi dengan sistem pembayaran nasional seperti WeChat Pay dan Alipay, memungkinkan turis Indonesia membayar di merchant ritel, restoran, dan transportasi tanpa konversi mata uang manual.

Uji coba Agustus 2025 melibatkan 336.000 perjalanan Indonesia ke China pada 2024, dengan pengeluaran rata-rata US$1.021 per trip. BI menyesuaikan kode QR untuk mendukung transaksi renminbi (RMB), dengan batas harian awal US$500 per pengguna untuk keamanan.

Merchant China akan menerima QRIS melalui gateway lokal, mengurangi biaya konversi hingga 2-3% dibandingkan kartu kredit.

Tantangan utama adalah koordinasi regulasi, karena struktur lembaga pembayaran China berbeda dari Indonesia; BI bekerja sama dengan PBoC untuk sinkronisasi data real-time.

Sementara itu, di Korsel, QRIS akan kompatibel dengan sistem NAVER Pay dan Samsung Pay, fokus pada sektor pariwisata seperti K-pop tour dan belanja di Seoul. Sandbox Oktober 2025 melibatkan 100 merchant pilot, menargetkan 10.000 transaksi uji coba sebelum Q1 2026.

Gubernur BI Perry Warjiyo menyatakan, “Sandbox ini akan terhubung penuh tahun depan, memperkuat perdagangan digital regional.” Pengguna Korsel juga bisa bayar di Indonesia via QRIS timbal balik, mendukung ekspor UMKM Indonesia seperti batik dan kopi.

Implementasi mencakup fitur QRIS Tap untuk transportasi umum, mirip peluncuran di Jakarta untuk KRL dan MRT. Batas transaksi awal adalah KRW 1 juta (sekitar Rp11 juta), dengan verifikasi biometrik untuk mencegah penipuan.

Proses teknis melibatkan enkripsi end-to-end dan compliance dengan standar GDPR-like di Asia, memastikan data pengguna aman.

BI berinvestasi Rp500 miliar untuk infrastruktur cloud, bekerja sama dengan ASPI untuk onboarding merchant.

Peluncuran Q1 2026 bertepatan dengan musim libur Imlek dan Tahun Baru Korea, memaksimalkan adopsi.

Manfaat Ekonomi dan Sosial

Ekspansi ini mendorong pertumbuhan ekonomi digital Indonesia, yang diproyeksikan capai 5,33% pada 2026.

Transaksi lintas batas QRIS melonjak 225% YoY pada Januari-April 2025, mencapai Rp7,1 miliar inbound dari Malaysia, Singapura, dan Thailand.

Dengan China dan Korsel, volume diprediksi tembus Rp50 triliun tahunan, menghemat devisa hingga US$1 miliar dari remitansi turis.

UMKM Indonesia, yang mencakup 38,1 juta dari 56,3 juta merchant QRIS, mendapat akses pasar baru; ekspor ke China naik 15% pada 2025 berkat kemudahan pembayaran.

Bagi pelancong, QRIS mengurangi risiko kehilangan uang tunai dan biaya ATM asing, yang rata-rata US$5 per tarik.

Di Korsel, turis Indonesia—lebih dari 200.000 pada 2024—bisa bayar di duty-free tanpa hambatan bahasa. Sosialnya, inklusi finansial meningkat; 40 juta UMKM terhubung, mengurangi kesenjangan digital di pedesaan Indonesia.

Kolaborasi ini juga memperkuat soft power Indonesia, memposisikan QRIS sebagai standar global seperti EMVCo.


Pada 2030, QRIS diproyeksikan hubungkan 20 negara, berkontribusi Rp200 triliun ke PDB digital Indonesia. Integrasi dengan CBDC (Central Bank Digital Currency) China dan Korsel akan percepat transaksi zero-fee.

Bagi generasi muda, QRIS membentuk budaya cashless, dengan 70% Gen Z Indonesia sudah menggunakannya harian. Ekspansi ini juga buka peluang fintech baru, seperti super app yang gabungkan QRIS dengan e-wallet global.

QRIS Bisa Dipakai di China dan Korsel pada Kuartal 1 2026 bukan sekadar berita, melainkan katalisator transformasi keuangan Asia.

BI mendorong adopsi domestik melalui edukasi, sementara pelancong disarankan update app pembayaran untuk siap manfaatnya. Dengan semangat kolaborasi, Indonesia memimpin revolusi digital—satu scan, dunia terhubung.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *