Ekonomi Melambat – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan bahwa ekonomi melambat di Indonesia pada Januari-Agustus 2025 bukan disebabkan faktor eksternal semata, melainkan akibat pengelolaan internal yang keliru.
Pernyataan tegas Purbaya, “Purbaya Sebut Ekonomi Melambat Bukan karena Global, tapi Salah Urus!”, disampaikan saat rapat kerja dengan Komisi XI DPR RI di Jakarta, Kamis (27/11/2025).
Subjek Purbaya menyoroti predikat salah urus sebagai objek utama penyebab kelesuan, sementara gejolak global justru minim pengaruhnya terhadap neraca perdagangan nasional.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan pertumbuhan ekonomi kuartal I 2025 hanya mencapai 4,87 persen, level terendah sejak kuartal III 2021.
Pemerintah mengakui bahwa kebijakan efisiensi anggaran awal tahun justru menghambat laju pemulihan pasca-pandemi. Ekspor Indonesia tumbuh 11,41 persen hingga September 2025, mencetak surplus perdagangan ke-65 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.
Hal ini membuktikan bahwa ketidakpastian dunia tidak signifikan memengaruhi trade balance, sebagaimana Purbaya tekankan. Sentimen risk-off global, termasuk konflik perdagangan AS-China, seharusnya tidak menekan ekspor komoditas primer Indonesia secara berlebih.
Namun, domestik justru menjadi titik lemah: konsumsi pemerintah turun -1,37 persen di kuartal I dan -0,33 persen di kuartal II.
Penyebab Mendalam: Salah Urus Fiskal-Moneter Domestik

Purbaya menekankan bahwa salah urus fiskal menjadi predikat utama yang menghambat subjek ekonomi Indonesia.
Objek kebijakan efisiensi anggaran, seperti pencadangan dana sejak Februari 2025, menyebabkan belanja pemerintah lambat terealisasi. Data Kemenkeu mencatat realisasi anggaran kuartal I hanya 18 persen dari target, jauh di bawah rata-rata historis 25 persen.
Hal ini memukul konsumsi pemerintah, komponen pengeluaran terbesar kedua setelah konsumsi rumah tangga. Investasi tetap solid di 5,2 persen yoy kuartal III, tapi tertekan oleh kurangnya stimulus infrastruktur.
Purbaya menyebut bahwa uang di sistem perbankan “kering” karena pajak rajin ditarik ke Bank Indonesia tanpa dibelanjakan ulang. Pertumbuhan kredit swasta hanya 4,5 persen, dibanding 22 persen era SBY.
Koordinasi fiskal-moneter lemah: BI menaikkan suku bunga acuan ke 6,25 persen untuk kendalikan inflasi 3,5 persen, tapi justru mengerem kredit UMKM.
Sektor manufaktur menyusut 2,1 persen, dengan PHK di industri tekstil mencapai 50.000 pekerja Januari-Mei. Pertanian, penopang domestik, terhambat subsidi pupuk yang terlambat distribusi, menyebabkan panen padi turun 3 persen.
Purbaya mengakui bahwa Inpres efisiensi awalnya bertujuan hemat defisit 2,5 persen PDB, tapi malah ciptakan efek domino: daya beli rumah tangga turun 1,2 persen, inflasi inti naik ke 4 persen.
Media sosial ramai kritik: akun @ishakjunaidy di X menyoroti “salah urus” sebagai akar demo Agustus.
Langkah Perbaikan: Akselerasi Belanja dan Stimulus Likuiditas

Ekonomi Melambat – Pemerintah merespons dengan predikat korektif terhadap subjek salah urus. Objek utama: penempatan dana Rp200 triliun ke Himbara September 2025, tambah Rp76 triliun November.
Langkah ini trigger likuiditas, dorong kredit swasta naik 6 persen Oktober. Purbaya sebut ini balikkan sentimen: indeks kepercayaan konsumen LPS ke 118 November, tertinggi sejarah.
Konsumsi pemerintah rebound 5,5 persen kuartal III. Subjek dana pemerintah memicu predikat optimisme objek investor. IHSG naik 10 persen pasca-injeksi, sinyal positif jangka panjang. Purbaya janji Q1 2026 belanja tak lambat, cegah efek domino.
Ekspor kuat dukung: surplus US$35 miliar Januari-September. Investasi asing masuk Rp150 triliun, fokus hilirisasi nikel. Subjek investor beri predikat sinyal positif objek kebijakan berkesinambungan. CNN Indonesia soroti rem belanja awal imbas lesu, tapi kini diakselerasi. Purbaya: “Dorongan ekonomi tetap kuat”.
Koordinasi BI turunkan suku bunga 25 bps ke 6 persen, picu kredit UMKM naik 8 persen. Subsidi pupuk tepat waktu, panen padi naik 5 persen proyeksi Q4. Subjek pertanian dapat predikat dukungan objek subsidi, stabilkan inflasi 3 persen.
Anti-korupsi APBN: audit KPK temukan Rp5 triliun efisiensi. Purbaya target defisit 2,3 persen PDB 2026. Stimulus lain: program makan gratis Rp400 triliun, dorong konsumsi rumah tangga 5,2 persen. Subjek rakyat rasakan predikat kesejahteraan objek naik.
Baca Juga : Chip Google Tensor Processing Unit (TPU) V4 Jadi Pesaing Nvidia
Dampak Sosial-Ekonomi dan Proyeksi Jangka Panjang

Ekonomi Melambat – Perlambatan awal picu dampak luas: subjek masyarakat alami predikat ketidakpuasan objek demonstrasi. Objek sosial: PHK 100.000 pekerja manufaktur, migrasi buruh 20 persen naik.
Kemiskinan naik 0,7 persen ke 9,5 persen, tekan anggaran bansos Rp300 triliun. Purbaya sebut: “Ekonomi lambat, gampang turun jalan”.
Subjek gejolak sosial ancam predikat stabilitas objek politik. Namun, perbaikan redam: kepercayaan naik, demo turun 80 persen Oktober-November. Ekonomi Q3 5,04 persen, didukung domestik 90 persen demand.
Subjek ekspor kuat predikat surplus objek berkelanjutan. Tantangan: koordinasi antar-kementerian, hindari efisiensi berlebih.
Purbaya ingatkan: “Jaga berkesinambungan, pasar saham kuat”. Jurnal Patroli: benahi internal utama. KabarBursa: domestik optimal kunci. Total, perbaikan ciptakan ekosistem resilient.
Purbaya tunjukkan komitmen perbaiki salah urus demi akselerasi berkelanjutan. Subjek pemerintah beri predikat optimisme objek pertumbuhan 5,2 persen 2025.
Pantau indikator domestik, dukung kebijakan inklusif, dan kolaborasi publik-privat jadi kunci navigasi tantangan ke depan. Indonesia bangkit lebih kuat melalui tata kelola prima.
