Pada tanggal 18 November 2025 pukul 14:20 UTC, Cloudflare mengalami gangguan berskala global yang memengaruhi layanan DNS, CDN, serta proteksi DDoS di sebagian besar wilayah Amerika Utara, Eropa, dan beberapa POP di Asia-Pasifik.
Ribuan situs web, aplikasi SaaS, hingga layanan API menjadi tidak dapat diakses selama lebih dari 90 menit.
Insiden ini kembali mengingatkan kita betapa besar ketergantungan ekosistem internet modern terhadap satu penyedia infrastruktur.
Penyebab Resmi dan Dugaan

Menurut status resmi Cloudflare, gangguan disebabkan oleh “major network event” yang melibatkan kegagalan routing di beberapa backbone provider tier-1 dan kesalahan propagasi konfigurasi internal.
Versi lebih teknis yang beredar di komunitas network engineer:
- BGP route leak dari salah satu upstream transit provider
- Kesalahan deploy change di kontrol plane anycast mereka
- Kombinasi keduanya yang memicu cascading failure di 12+ data center inti
Cloudflare telah melakukan rollback dan menyatakan layanan kembali 100% pada 16:05 UTC.
Cara Menyikapi Saat Ini
- Pantau terus https://www.cloudflarestatus.com/ dan akun resmi @CloudflareSys
- Jangan lakukan perubahan DNS besar-besaran saat incident masih “investigating” (bisa memperparah propagasi)
- Aktifkan mode “Development Mode” sementara jika Anda menggunakan fitur caching agresif
- Siapkan SOP internal: tim SRE wajib standby, komunikasi ke stakeholder, dan monitoring fallback
Alternatif dan Strategi Multi-CDN (Langkah Jangka Panjang)

Untuk mengurangi risiko single point of failure di masa depan:
- Multi-CDN: Kombinasikan Cloudflare + Fastly/CloudFront/BunnyCDN dengan DNS load balancing (DNSMadeEasy, Constellation, atau NS1)
- DNS-only mode (gray cloud) untuk domain kritis + origin shielding
- Geo-steering dan health-check aktif via Global Server Load Balancing (GSLB)
- Edge computing platform seperti Vercel Edge Network atau Deno Deploy untuk aplikasi statis
- Self-hosted fallback: Nginx + GeoDNS sederhana di beberapa region sebagai “circuit breaker”
Gangguan Cloudflare kali ini bukan yang pertama, juga kemungkinan besar bukan yang terakhir.
Namun, setiap insiden adalah pengingat bahwa ketahanan sistem tidak pernah cukup hanya mengandalkan satu vendor—sehebat apa pun reputasinya.
Saatnya tim infrastruktur dan DevOps menjadwalkan review arsitektur multi-provider serta disaster recovery yang lebih serius.
Internet global memang semakin terpusat, tapi kita masih punya pilihan untuk tidak sepenuhnya bergantung.
